Minggu, 26 Juni 2011

Bilateral Guru dan Murid Negara khatulistiwa dan Maghribi

Hubungan kerjasama antar bangsa saat ini menjadi hal yang wajib untuk dijalani, banyak faktor yang melatarbelakangi alasan dilakukannya kerjasama tersebut. Adakah bangsa yang secara real mampu berdiri sendiri tanpa adanya bantuan atau hubungan kerjasama dengan negara lain ? sepertinya itu sudah menjadi hal yang tak mungkin, bahkan sejarah membuktikan ketika era perang dingin, suatu periode dimana dua blok yaitu Amerika dengan liberalismenya dan Uni Soviet dengan komunismenya bersitegang. Hal ini berdampak pada sikap kedua blok terhadap negara-negara lain yang berideologi berbeda. Salah satu contohnya adalah hubungan antara Amerika Serikat dengan RRC (Republik Rakyat Cina) yang tidak harmonis semenjak RRC menganut ideologi komunis. Sehingga tidak ada hubungan diplomatis yang terjalin antar kedua negara bahkan sikap anti terhadap masing-masing negara. Namun akhirnya, Cina sebagai negara yang tidak memiliki hubungan baik dengan AS maupun Uni Soviet akhirnya memutuskan untuk membuka diri terhadap AS walaupun AS memiliki ideologi yang berbeda. Karena dianggap lebih menguntungkan dalam beberapa hal bagi negaranya. Ini menjadi salah satu bukti bahwa tidak ada negara manapun yang mampu berdiri tanpa ada hubungan diplomasi yang harmonis walaupun negara tersebut dapat dikatakan suatu negara besar dan berpengaruh di dunia.
Hubungan bilateral yang harmonis itulah yang ingin diwujudkan Kerajaan Maroko dengan Republik Indonesia yang selama ini secara politis sudah terjalin dengan baik, tidak hanya di bidang politik, melainkan juga di bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan. Hubungan persahabatan Indonesia-Maroko sudah berlangsung selama 51 tahun. Indonesia memulai kerjasama diplomatik dengan Maroko pada tanggal 19 April 1960. Berbagai bidang kerja sama yang dilakukan Indonesia – Maroko salah satunya dilatarbelakangi karena kesamaan latar belakang kultur diantara kedua negara.
Hubungan baik Indonesia dan kerajaan Maroko sudah terlihat saat Indonesia memberikan dukungan moril bagi kemerdekaan Maroko 5O tahun silam. Dan untuk mengenang jasa Indonesia itu Pemerintah Maroko telah mengabadikan nama mantan Presiden RI (Soekarno) dan dua kota penting di Indonesia (Bandung dan Jakarta) menjadi nama jalan utama di jantung ibukota Rabat. Seperti halnya di Maroko, di Indonesia pun nama Casablanca (kota industri dan perdagangan Maroko) telah dijadikan nama salah satu jalan protokol di jantung ibukota Jakarta.
Langkah awal terjalinnya hubungan bilateral Indonesia dan Maroko saat diadakannya Konferensi Asia Afrika di Bandung, Indonesia tahun 1955. Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945, tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan. Timbulnya pergolakan di dunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat , India dan Pakistan terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang di Bantu oleh Amerika Serikat. Sehingga diadakanlah Konferensi Asia Afrika dimana Indonesia dan Maroko menjadi peserta konferensi tersebut. Salah satu tujuan konferensi tersebut adalah untuk memajukan goodwill (kehendak yang luhur) dan kerjasama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika , untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan mereka , baik yang silih ganti maupun yang bersama, serta untuk menciptakan dan memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga baik.
Hingga saat ini, hubungan bilateral Indonesia dan Maroko tetap berjalan harmonis, banyak kerjasama yanga telah dilakukan oleh kedua negara dalam berbagai bidang. Secara khusus, dalam pidato resmi Wakil Menteri Luar Negeri Maroko Latifa Akharbach dalam acara peringatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Maroko di KBRI Rabat, menyatakan bahwa Maroko tetap akan belajar kepada Indonesia tentang Islam dan demokrasi. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, dianggap negara kaya yang sangat demokratis dan bisa menerima kemajemukan. Walaupun sebenarnya Indonesia masih harus belajar dalam hal proses demokrasi untuk menerima sebuah realitas. Begitu juga Maroko, negara yang jumlah penduduknya hampir 98 % pemeluk agama Islam. Sudah menjadi wacana global yang masih menuding terorisme datang dari kelompok Islam. Bagaimana Indonesia dan Maroko sebagai negara yang mayoritasnya pemeluk agama islam menghadapi opini global ini dalam suatu kerjasama? Oleh karena itu, bidang pertahanan menjadi salah satu hal menarik dalam hubungan bilateral Indonesia dan Maroko saat ini. Terlebih bila dihubungkan dengan kegiatan terorisme dan islam, dimana dikedua negara ini memang sering terjadi aksi terorisme.
Konflik intern yang berkaitan dengan Sahara Barat di Maroko seringkali memunculkan teror-teror kepada Pemerintahan Maroko. Namun, hingga saat ini kondisi Maroko dari sisi keamanan sangat kondusif. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk belajar bagaimana menghadapi keadaan seperti ini. Pemerintah Maroko mempersilakan Indonesia untuk mengikuti informasi yang ada melalui Pihak KBRI Maroko yang selalu memonitor terhadap perkembangan yang terjadi di lapangan. Sikap-sikap pemerintahan Maroko juga diinformasikan, sehingga tidak kehilangan kesempatan dan kecolongan.
Pihak Maroko sendiri sudah bertekad untuk belajar kepada Indonesia, yakni menyelesaikan Sahara seperti penyelesaian Aceh menjadi daerah otonomi khusus. Selanjutnya, proses politiknya akan diserahkan kepada PBB. Indonesia sendiri mendukung proses ini.
Dalam hal penangkapan teroris-pun kedua negara ini dapat saling belajar dan bertukar informasi karena dapat dikatakan bahwa Indonesia dan Maroko cukup sukses dalam menyelesaikan permasalahan ini, dibuktikan dengan kesuksesan Maroko dalam penangkapan 3 pelaku bom marrakesh, penangkapan 27 orang yang diduga rancang serangan teror dimana masih berhubungan dengan anggota jaringan al-qaeda, keberhasilan pemerintah Maroko membongkar jaringan teroris yang rencanakan serangan, dan kasus-kasus terorisme lainnya. Pemerintah Indonesia-pun berhasil menangkap pelaku bom Bali, keberhasilan besar Pemerintah Indonesia dalam menangkap lebih dari 440 orang dan menghukum lebih dari 200 orang yang terlibat dalam kasus terorisme, dan kasus-kasus terorisme lainnya.
Di masa yang akan datang, hubungan bilateral yang telah dijalin Indonesia dan Maroko diharapkan dapat terus berjalan baik dan dapat bekerjasama lebih banyak lagi dalam berbagai bidang guna meningkatkan kesejahteraan kedua negara. Atas hubungan bilateral Indonesia dan Maroko ini wajar apabila kedua negara mempunyai cita-cita besar, bahwa melalui poros Indonesia-Maroko, akan mulai dibangun jembatan peradaban untuk membangkitkan kembali zaman keemasan peradaban Islam tanpa adanya lagi anggapan bahwa islam sebagai sumber teroris. Dan untuk menghadapi segala permasalahan dalam bidang pertahanan dan keamanan diharapkan adanya Kerjasama militer Indonesia-Maroko yang masih perlu dibangun. Karena posisi Indonesia di mata Maroko, seperti guru dengan murid dimana hubungan Indonesia-Maroko sudah terbangun sejak abad ke VI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar