Rabu, 16 Maret 2011

Hanya Nasehat Untuk Diri Sendiri

Kalau kita berpikir tak ada keberuntungan hadir dalam hidup kita, sementara orang-orang disekitar kita rasanya seperti dilingkupi keberuntungan dalam menjalani kehidupan mereka. Sebenarnya pemikiran itu salah, kita memiliki kapasitas sendiri dengan apa yang kita dapatkan, cobalah ingat apa yang tidak mereka miliki tapi kita mampu memilikinya, bukan hanya dilihat dari sisi materi, tapi hal lain yang jauh lebih berarti dari itu.
Kalau memang hati kita diliputi rasa iri ,hal itu wajar, tapi berperasaan positif lah, mungkin tuhan akan memberikan yang jauh lebih baik dari apa yang mereka dapatkan, hanya saja kita perlu bersabar untuk mendapatkannya, seperti yang pernah aku baca dalam sebuah buku “quantum ikhlas “, yang mengajarkan untuk selalu positive feeling bukan positive thinking, karena dengan berperasaan positif tanpa kita sadari, kuanta dalam diri kita menarik hal tersebut yang kemudian akan menjadi suatu hal nyata yang hadir dalam kehidupan kita.
Jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu sama seperti orang lain,hanya karena kita meyakini dia jauh lebih hebat dari kita. percayalah pada diri kita bahwa kita memilki potensi sendiri yang tak sama dengan yang lain. Setelah kita bisa menikmati keyakinan itu, jangan lupa untuk memohon, dan bisikan dalam hatimu..”jangan sedih, lakukan saja apa yang terbaik yang bisa kita lakukan, jangan menyalahkan keadaan, karena Allah tau apa yang terbaik untukmu, apa yang kamu pikirkan baik, belum tentu baik bagiNya, apa yang kamu pandang buruk, belum tentu buruk bagiNya,..Ya Allah, kalau aku punya segala kesempurnaan yang engkau anugerahkan untukku, maka bantulah aku untuk memaksimalkannya, dan ingatkan aku untuk selalu bersyukur.”
Hal tersebut terpikir saat bersama teman-teman, singkat cerita...
15 maret 2011
Jam menunjukkan pukul 8 malam, aku terdiam di kamar kostku,baru saja selesai melaksanakan salat isya,kubuka mukena dan menoleh ke arah tempat tidur, buku manajemen keuangan dan catatan menanti di tempat tidur, seakan memanggil untuk segera dibaca, memang rencananya seusai salat aku akan belajar manajemen keuangan karena keesokan harinya akan diadakan quiz, suasana malam saat itu sepi, karena sebagian temanku tidak ditempat. Baru saja aku sentuh buku karangan arthur keown tersebut, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku, cukup lantang “ ven, naik keatas...!!”, aku kenal jelas siapa pemilik suara itu, Bila.langsung saja aku menyahut panggilannya, “ iya Bil,bentar aku keatas, kunci pintu dulu..”
Buku karangan keown itu kuletakkan kembali diatas tempat tidur, seperti tak ada artinya kalau dibandingkan dengan ajakan temanku, bergegas aku naik ke atas, karena kebetulan kamarku ada dilantai bawah. Disana sudah ada Nana, Thoem, dan Bila, dia menyodorkan spagetti, salah satu makanan kesukaanku, Bila bercerita tentang kebahagiannya hari itu kepada kami, ternyata spagetti yang ia sodorkan kepada kami adalah buatannya dan Ryan sang kekasih,hehe..seru mendengar kebahagiaan temanku itu, iya juga menceritakan masakan apa saja yang berhasil dia buat dengan pacarnya itu, satu hal yang terpikir saat itu, aku ketinggalan salah langkah dibelakang dengan Bila, karena keandalannya dalam memasak, beda denganku yang lebih sering jadi penikmat bukan pembuat.
Akhirnya kami makan bersama, kecuali Thoem, karena ia tak suka dengan makanan pasta itu, “aneh rasanya, gua lebih milih indomie atau kwetiaw deh dari pada makan kaya gituan, caca pernah buatin buat gua,ga enak” ujar thoem. Kami hanya tertawa dan melanjutkan makan, sepertinya aku yang paling lahap, bukan karena lapar, sebenarnya sore kami sudah makan, tapi karena itu makanan yang aku suka sekaligus mengingatkan aku dengan rumah, dimana biasanya aku memasaknya bersama finna,adikku satu-satunya.
Baru saja kami selesai makan, tak lama kemudian, Inyong, Mei dan Yenni pulang, akhirnya lengkaplah sudah sevensister berkumpul, dan sudah bisa diterka, kalau kami sudah berkumpul, jangan harap quiz besok masih terlintas dalam pikiran kami, kehebohan dimulai, saat itu, rasanya aku berbubah menjadi devil “ temen-temen belajar mankeu nya besok ja ya, kita cerita-cerita dah lama, besok kan masuk jam 1an, jadi masih ada waktu”. Tanpa pikir panjang, semua teman-temanku menjawab “ya, santai aja”.
Cerita pun dimulai, sasaran utama obrolan kami malam ini adalah mei, wanita berjilbab cantik ini, sungguh membuat kami bingung dengan cerita cintanya, entah mengapa ada remaja cantik yang hidup di kota besar tapi bisa betah menyandang status jomblonya hampir 20tahun, alias belum pernah pacaran,bukan tidak laku, tapi sifat pemilihnyalah yang mengalahkan segalanya,saat ini saja, ada seorang lelaki asal sulawesi yang kuliah di yogya menyatakan suka padanya, aku menemui lelaki tersebut saat kami berlibur ke yogyakarta tahun lalu. sang presiden Nana, memulai interogasinya, setelah lama mengorek cerita darinya, ternyata Mei menyukai seorang lelaki asal kampung halamannya di kalimantan, yang tidak jelas kesungguhannya. Kami sepakat memberi nasehat untuk tidak berharap pada hal yang tak pasti, aku tahu mei menerima hal tersebut dengan perasaan ragu, perasaan tak bisa dibohongi sobat, itulah inti masalah yang aku tangkap dari mei, kami bisa saja memaksakan dirinya untuk bersama seseorang yang kami pilih untuknya, tapi kami tak akan bisa mengendalikan hati seseorang untuk bisa bersama dengan orang yang kami mau.
Tak ada yang bisa diungkapkan dari bibir Mei, aku merasakan bahwa dia sendiri bingung harus berkomentar apa, dirasa belum menemukan penyelesaian, perhatian kami beralih ke orang yang berada tepat disamping kanan mei, siapa dia?seorang gadis dari bogor yang bila bertingkah tak pernah berpikir dahulu, iya seakan menangkap rangsangan melalui saraf sensoriknya lalu diteruskan ke sumsum tulang belakang, sehingga menghasilkan respons yang refleks. Dialah seseorang yang selalu siap siaga untuk menjadi pemimpin kami bila kami akan melaksanakan perjalanan, atau bersenang-senang menghabiskan uang. Sosok yang Lucu dan menyenangkan.
Kami mulai penasaran dengan apa yang terjadi dalam dirinya saat ini, terlebih belakangan ini kami sering melihat ia sedih dan muram. Rasa penasaran kami tak tertahan. Kami bersorak riuh memaksa padanya untuk mulai bercerita. Ia mulai bercerita, banyak hal yang dia ungkapkan, aku tertegun melihat dan mendengarnya, aku terbawa emosi dalam hati mendengar ia bercerita, aku bisa melihat dalam hatinya terpendam rasa perih, ia mengatakan baik-baik saja dengan apa yang terjadi padanya saat ini, tapi sinar mata dan raut wajah yang ia tampakkan dihadapan kami tak dapat membohongi nuraninya. Masalah cintanya, masalah keluarganya, pasti membuat ia terbebani, tapi bukan seorang president kami kalau tidak bisa menutupi hal itu, ia selalu ceria dengan apapun keadaan yang ia alami, itu salah satu hal yang aku kagumi darinya. Ini bisa menjadi penampung segala keluhan dari teman-teman padahal ia sendiri menampung bebannya. Aku tak bisa menceritakan apa yang ia rasa secara gamblang. Tapi ikut merasakannya.
Cerita kami lanjutkan pada orang yang berada disamping kanan nana, Inyong cewek asal brebes ini lucu bila ia mulai berbicara dengan logat brebesnya, masih terasa,kehebohan lagi-lagi kami munculkan, thoem begitu bersemangat untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya saat ini. Memang mereka berdua kadang seperti kucing dan anjing, tapi tetap kompak pada hal-hal tertentu, pembicaraan mulai melenceng, malu untuk aku publish dan ceritakan pada orang-orang, tapi kadang beginilah obrolan kami, entah apa yang memulainya terjadi begitu saja.
Cerita terus berlanjut, Bila, sepertinya sedang tak menghadapi masalah yang complicated saat ini, dalam hal cinta mungkin semuanya sedang terasa indah untuk ia jalani, dilanjut Yenni yang aneh, aku sedikit tak mengerti dan sulit untuk diungkapkan ceritanya, begitu juga thoem yang masih harus berkutat dengan cerita lama yang tak ada habisnya, hingga subjek ceritapun mengarah padaku. Mereka kompak memandangku, aku tak tahu apa yang harus aku ceritakan pada mereka, sepertinya memang tak ada, akhirnya yenni memulai dengan pertanyaan, “ bagaimana dengan orang aceh itu?”, aku bingung untuk menjawab apa, “ semuanya baik-baik aja”, hanya itu inti yang aku ceritakan pada mereka. Aku tak bisa mengungkapkannya secara mendalam padahal aku merasakan rasa ini begitu mendalam. Tapi aku tahu mereka mengerti dengan apa yang aku ungkapkan.
Cerita kami begitu panjang tak sependek apa yang aku ceritakan dalam tulisan ini, tak seringan itu, tapi memberikan arti yang lebih untukku, setidaknya suatu pelajaran untuk aku pahami, bahwa setiap orang memilki ceritanya masing-masing, dengan segala masalah juga segala kebahagiaannya yang mereka dapatkan. Kami hidup bersama saat ini, belajar bersama, makan bersama, bercerita, tertawa, tapi tetap memilki kehidupan yang berbeda untuk dijalani. Dengan kapasitas masing-masing yang kami miliki, tuhan menentukan jalan yang berbeda untuk langkah yang sama, aku dan teman-teman hanya bisa berusaha dan berharap bisa melakukan segalanya sebaik mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar