Kamis, 30 Juni 2011

Perdagangan Indonesia-Maroko dari Tujuan Penyebaran Islam hingga Hubungan Diplomatis

Kerjasama antar-bangsa di dunia dapat dilatarbelakangi oleh banyak faktor, seperti halnya kerjasama yang dilakukan dalam bidang perdagangan. Salah satu faktor dilakukannya kerjasama perdagangan antar-bangsa yaitu karena keterbatasan sumber daya dari suatu negara untuk mencukupi kebutuhan masyarakatnya, misalnya kebutuhan untuk perindustrian, negara tersebut dapat dikatakan maju dan mampu secara menyeluruh memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Namun dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan/pertanian, negara tersebut memiliki kesulitan untuk memenuhi kebutuhan masyaraktnya, karena letak geografis atau pengetahuan yang terbatas. Sehingga, negara tersebut harus melakukan pertukaran/kerjasama yang menguntungkan dengan negara lain guna memenuhi kebutuhannya masyarakatnya dengan cara yang paling efesien dan efektif yaitu kerjasama/hubungan bilateral yang dapat memperkuat perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat masing-masing negara.
Bagaimana hubungan kerjasama dalam hal perdagangan yang dilakukan Maroko dan Indonesia guna memperkuat masing-masing negara dalam hal perekonomian dan meningkatkan kesejateraan masyarakatnya? dengan hubungan bilateral Indonesia dan Maroko yang sudah terjalin baik dalam berbagai bidang, tidak hanya perdagangan, melainkan dalam bidang politik, kebudayaan, dan perekonomian dengan berbagai persamaan yang ada diantara kedua bangsa ini.
Latar belakang sejarah dan budaya sebagai sesama negara Muslim dan minat yang tinggi dari pengusaha Maroko atas produk-produk Indonesia dapat menjadi salah satu pelicin dilakukannya kerjasama perdagangan melalui kegiatan ekspor dan impor. Di bidang ekonomi, secara umum Maroko memiliki produk atau sektor unggulannya yaitu fosfat dan produk-produk pertanian. Dan Indonesia memiliki keunggulan produk-produk handmade ( kerajinan dan pembuatan furniture ) untuk Kawasan Maghribi adalah pasar yang cukup potensial bagi komoditi ekspor Indonesia atas barang-barang tersebut bahkan menjadi komoditi yang dinantikan.
Agama Islam dikenalkan melalui perdagangan dimana menjadi awal hubungan perdagangan Indonesia dan Maroko tempo dulu. Sehingga agama dan kebudayaan Islam di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Oleh sebab itu dikenal bahwa kedua negara merupakan mayoritas pemeluk islam saat ini. Sejak zaman dulu telah dikenal pelayaran dan perdagangan antar bangsa selain untuk menyebarkan agama Islam. Kondisi ini membuat pedagang-pedagang dari berbagai negara saling berinteraksi. Hal ini juga menjadi faktor berkembangnya kerajaan-kerajaan islam di indonesia melalui kegiatan perdagangan. Salah satunya kerajaan samudera pasai yang sumber mengenai keberadaannya ditulis oleh Ibnu Batutah seorang petualang dari Maroko. Ini membuktikan bahwa Maroko-Indonesia sudah melakukan perdagangan sejak dulu dengan penyebaran agamanya yang menambah persamaan diantara kedua negara ini. Walaupun hubungan bilateral dan kerjasama perdagangan belum dimulai secara politis oleh kedua negara.
Hubungan bilateral Indonesia dan Maroko terus berkembang hingga Saat ini. Dan sektor pertanian menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Maroko, dengan adanya kerjasama bilateral, hal ini dapat dimanfaatkan bagi Indonesia untuk melakukan riset dan penelitian mengingat Indonesia-pun pernah menjadi negara pengekspor hasil pertanian terbesar di kawasan Asia. Namun dengan berubah kondisi masyarakat hingga membuat sektor pertanian tak lagi menjadi komoditi unggulan Indonesia. Sehingga sangat bermanfaat apabila Indonesia dan Maroko saling bertukar informasi dalam bidang ini.
Hal ini telah dilaksanakan pemerintah dengan adanya Tim Pertukaran Ilmiah Badan Litbang Pertanian yang telah mengadakan kunjungan ke INRA (Intitute National de la Recherce Agronomique) Maroko untuk mengidentifikasi bidang penelitian pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan dalam bentuk kerja sama antarinstitusi Indonesia dan Maroko sebagai tindak lanjut kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia ke negara tersebut. Penelitian pertanian tersebut difokuskan antara lain meningkatkan ketahanan pangan, water management atau efisiensi penggunaan air, pengembangan varietas tanaman gandum, yang difokuskan pada peningkatan ketahanan tanaman gandum terhadap kekeringan.
Dalam memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Maroko, dijelaskan bahwa Indonesia dan Maroko juga melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi khususnya dalam hal penjualan pupuk fosfat dari perusahaan pupuk milik negara, Gresik, dan perusahaan pupuk milik Maroko selama tiga tahun. Sampai saat ini, volume kerjasama ekonomi kedua negara tetap surplus dengan total angka sebesar 110 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan 1 koma 1 triliun rupiah.
Data neraca perdagangan kedua negara selalu surplus untuk Indonesia, dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai misal, pada tahun 2005, nilai perdagangan RI-Maroko tercatat mencapai angka US$76,28 juta. Dari jumlah tersebut, impor RI adalah sebesar US$25,20 juta). Angka di tahun 2005 ini menunjukkan peningkatan 26% dibanding tahun 2004 yang baru mencapai angka US$60,54 juta.
Dikatakan bahwa produk-produk Indonesia seperti makanan, minuman, kopi, rempah-rempah, kerajinan kaca, minyak kelapa sawit, tekstil, TV, radio, kayu, kertas, ban mobil, karton, plastik, furniture, benang, karet, kabel listrik dan tembakau, sangat disukai oleh masyarakat Maroko. Dengan demikian, kedua negara sangat potensial untuk menjalin kerja- sama ekspor impor secara lebih insentif. PM Driss Jettou juga mengemukakan pentingnya Indonesia memanfaatkan posisi strategis negaranya yang secara geografis dekat dengan Eropa dan telah melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa serta dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Turki, Jordania, Tunisia, Mesir, dan Uni Emirat Arab. Menurutnya, Indonesia dapat menjadikan Maroko sebagai batu loncatan bagi pemasaran produk-produk Indonesia ke negara-negara tersebut. Adapun dari maroko, Indonesia mengimpor produk pospat dan asam pospat.
Walaupun belum besar secara angka, produk-produk Indonesia yang telah berjaya masuk ke pasar Maroko dapat dikategorikan dalam 5 (lima) kelompok yaitu produk makanan dan minuman, produk mentah hewani/nabati, produk jadi peralatan industri, produk jadi siap pakai (konsumsi) dan produk setengah jadi
Untuk produk makanan dan minuman, kopi menduduki peringkat teratas dengan nilai US$7,42 juta. Urutan kedua adalah rempah-rempah dengan nilai US$592 ribu. Untuk produk mentah hewani/nabati, produk minyak sawit mentah menduduki peringkat pertama dengan nilai US$7,75 juta, diikuti minyak sawit olahan dengan total US$1,08 juta.
Untuk produk jadi peralatan industri, perangkat mesin otomotif dan perlengkapannya mendominasi dengan angka US$4,69 juta. Peringkat selanjutnya ditempati oleh ban mobil dan pipa untuk industri mobil yang mencapai angka US$309 ribu.
Sementara itu produk konsumsi dipuncaki oleh perangkat radio dan TV yang mencapai angka US$5,86 juta. Setelah itu, kain sintetis dan serat buatan dengan angka US$1,83 juta. Adapun untuk produk setengah jadi, bahan pewarna kimia menduduki peringkat atas dengan angka US$850 ribu.
Hingga tahun 2004, Indonesia merupakan mitra dagang utama Maroko di Asia Tenggara, yaitu RI berada di urutan 35, diatas Thailand (39), Malaysia (42), Singapura (64), Philipina (69), dan Brunei Darrusalam (130). Dengan kehadiran Indonesia di Maroko yang telah melewati 4 dekade tersebut, tidaklah aneh jika banyak produk Indonesia yang telah dikenal secara luas oleh masyarakat negara ini. Sekarang, tinggal bagaimana dunia usaha kita menangkap peluang yang telah terpampang di depan mata itu, sehingga produk-produk Indonesia dapat lebih banyak lagi masuk di Maroko, yang pada gilirannya akan meningkatkan devisa negara.
Namun, saat ini Pemerintah menilai perdagangan antara Indonesia dengan Maroko masih kecil, yakni kurang dari USS 90 juta dengan pertumbuhan sekitar 20-25%. Karena itu, di masa yang akan datang diharapkan perdagangan kedua negara bisa ditingkatkan. Harapan itu diungkapkan Presiden SBY setelah kedua pemimpin negara itu yakni Presiden Yudhoyono dengan Perdana Menteri Maroko Abbas El Fassi melakukan pertemuan dalam menjajaki hubungan bilateral antarnegara. Selain membicarakan pengembangan bidang perdagangan, keduanya juga sepakat memajukan World Islamic Economic Forum (WIEF). Sebab dalam WIEF, bisa memajukan umat Islam dalam meningkatkan kerja sama antara komunitas-komunitas Islam dan juga untuk membangun jembatan antara dunia Islam dan dunia non-Islam yang sekarang ini terus diwarnai globalisasi.

1 komentar: