Kerjasama antar-bangsa di dunia dapat dilatarbelakangi oleh banyak faktor, seperti halnya kerjasama yang dilakukan dalam bidang perdagangan. Salah satu faktor dilakukannya kerjasama perdagangan antar-bangsa yaitu karena keterbatasan sumber daya dari suatu negara untuk mencukupi kebutuhan masyarakatnya, misalnya kebutuhan untuk perindustrian, negara tersebut dapat dikatakan maju dan mampu secara menyeluruh memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Namun dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan/pertanian, negara tersebut memiliki kesulitan untuk memenuhi kebutuhan masyaraktnya, karena letak geografis atau pengetahuan yang terbatas. Sehingga, negara tersebut harus melakukan pertukaran/kerjasama yang menguntungkan dengan negara lain guna memenuhi kebutuhannya masyarakatnya dengan cara yang paling efesien dan efektif yaitu kerjasama/hubungan bilateral yang dapat memperkuat perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat masing-masing negara.
Bagaimana hubungan kerjasama dalam hal perdagangan yang dilakukan Maroko dan Indonesia guna memperkuat masing-masing negara dalam hal perekonomian dan meningkatkan kesejateraan masyarakatnya? dengan hubungan bilateral Indonesia dan Maroko yang sudah terjalin baik dalam berbagai bidang, tidak hanya perdagangan, melainkan dalam bidang politik, kebudayaan, dan perekonomian dengan berbagai persamaan yang ada diantara kedua bangsa ini.
Latar belakang sejarah dan budaya sebagai sesama negara Muslim dan minat yang tinggi dari pengusaha Maroko atas produk-produk Indonesia dapat menjadi salah satu pelicin dilakukannya kerjasama perdagangan melalui kegiatan ekspor dan impor. Di bidang ekonomi, secara umum Maroko memiliki produk atau sektor unggulannya yaitu fosfat dan produk-produk pertanian. Dan Indonesia memiliki keunggulan produk-produk handmade ( kerajinan dan pembuatan furniture ) untuk Kawasan Maghribi adalah pasar yang cukup potensial bagi komoditi ekspor Indonesia atas barang-barang tersebut bahkan menjadi komoditi yang dinantikan.
Agama Islam dikenalkan melalui perdagangan dimana menjadi awal hubungan perdagangan Indonesia dan Maroko tempo dulu. Sehingga agama dan kebudayaan Islam di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Oleh sebab itu dikenal bahwa kedua negara merupakan mayoritas pemeluk islam saat ini. Sejak zaman dulu telah dikenal pelayaran dan perdagangan antar bangsa selain untuk menyebarkan agama Islam. Kondisi ini membuat pedagang-pedagang dari berbagai negara saling berinteraksi. Hal ini juga menjadi faktor berkembangnya kerajaan-kerajaan islam di indonesia melalui kegiatan perdagangan. Salah satunya kerajaan samudera pasai yang sumber mengenai keberadaannya ditulis oleh Ibnu Batutah seorang petualang dari Maroko. Ini membuktikan bahwa Maroko-Indonesia sudah melakukan perdagangan sejak dulu dengan penyebaran agamanya yang menambah persamaan diantara kedua negara ini. Walaupun hubungan bilateral dan kerjasama perdagangan belum dimulai secara politis oleh kedua negara.
Hubungan bilateral Indonesia dan Maroko terus berkembang hingga Saat ini. Dan sektor pertanian menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Maroko, dengan adanya kerjasama bilateral, hal ini dapat dimanfaatkan bagi Indonesia untuk melakukan riset dan penelitian mengingat Indonesia-pun pernah menjadi negara pengekspor hasil pertanian terbesar di kawasan Asia. Namun dengan berubah kondisi masyarakat hingga membuat sektor pertanian tak lagi menjadi komoditi unggulan Indonesia. Sehingga sangat bermanfaat apabila Indonesia dan Maroko saling bertukar informasi dalam bidang ini.
Hal ini telah dilaksanakan pemerintah dengan adanya Tim Pertukaran Ilmiah Badan Litbang Pertanian yang telah mengadakan kunjungan ke INRA (Intitute National de la Recherce Agronomique) Maroko untuk mengidentifikasi bidang penelitian pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan dalam bentuk kerja sama antarinstitusi Indonesia dan Maroko sebagai tindak lanjut kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia ke negara tersebut. Penelitian pertanian tersebut difokuskan antara lain meningkatkan ketahanan pangan, water management atau efisiensi penggunaan air, pengembangan varietas tanaman gandum, yang difokuskan pada peningkatan ketahanan tanaman gandum terhadap kekeringan.
Dalam memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Maroko, dijelaskan bahwa Indonesia dan Maroko juga melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi khususnya dalam hal penjualan pupuk fosfat dari perusahaan pupuk milik negara, Gresik, dan perusahaan pupuk milik Maroko selama tiga tahun. Sampai saat ini, volume kerjasama ekonomi kedua negara tetap surplus dengan total angka sebesar 110 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan 1 koma 1 triliun rupiah.
Data neraca perdagangan kedua negara selalu surplus untuk Indonesia, dan selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai misal, pada tahun 2005, nilai perdagangan RI-Maroko tercatat mencapai angka US$76,28 juta. Dari jumlah tersebut, impor RI adalah sebesar US$25,20 juta). Angka di tahun 2005 ini menunjukkan peningkatan 26% dibanding tahun 2004 yang baru mencapai angka US$60,54 juta.
Dikatakan bahwa produk-produk Indonesia seperti makanan, minuman, kopi, rempah-rempah, kerajinan kaca, minyak kelapa sawit, tekstil, TV, radio, kayu, kertas, ban mobil, karton, plastik, furniture, benang, karet, kabel listrik dan tembakau, sangat disukai oleh masyarakat Maroko. Dengan demikian, kedua negara sangat potensial untuk menjalin kerja- sama ekspor impor secara lebih insentif. PM Driss Jettou juga mengemukakan pentingnya Indonesia memanfaatkan posisi strategis negaranya yang secara geografis dekat dengan Eropa dan telah melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa serta dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Turki, Jordania, Tunisia, Mesir, dan Uni Emirat Arab. Menurutnya, Indonesia dapat menjadikan Maroko sebagai batu loncatan bagi pemasaran produk-produk Indonesia ke negara-negara tersebut. Adapun dari maroko, Indonesia mengimpor produk pospat dan asam pospat.
Walaupun belum besar secara angka, produk-produk Indonesia yang telah berjaya masuk ke pasar Maroko dapat dikategorikan dalam 5 (lima) kelompok yaitu produk makanan dan minuman, produk mentah hewani/nabati, produk jadi peralatan industri, produk jadi siap pakai (konsumsi) dan produk setengah jadi
Untuk produk makanan dan minuman, kopi menduduki peringkat teratas dengan nilai US$7,42 juta. Urutan kedua adalah rempah-rempah dengan nilai US$592 ribu. Untuk produk mentah hewani/nabati, produk minyak sawit mentah menduduki peringkat pertama dengan nilai US$7,75 juta, diikuti minyak sawit olahan dengan total US$1,08 juta.
Untuk produk jadi peralatan industri, perangkat mesin otomotif dan perlengkapannya mendominasi dengan angka US$4,69 juta. Peringkat selanjutnya ditempati oleh ban mobil dan pipa untuk industri mobil yang mencapai angka US$309 ribu.
Sementara itu produk konsumsi dipuncaki oleh perangkat radio dan TV yang mencapai angka US$5,86 juta. Setelah itu, kain sintetis dan serat buatan dengan angka US$1,83 juta. Adapun untuk produk setengah jadi, bahan pewarna kimia menduduki peringkat atas dengan angka US$850 ribu.
Hingga tahun 2004, Indonesia merupakan mitra dagang utama Maroko di Asia Tenggara, yaitu RI berada di urutan 35, diatas Thailand (39), Malaysia (42), Singapura (64), Philipina (69), dan Brunei Darrusalam (130). Dengan kehadiran Indonesia di Maroko yang telah melewati 4 dekade tersebut, tidaklah aneh jika banyak produk Indonesia yang telah dikenal secara luas oleh masyarakat negara ini. Sekarang, tinggal bagaimana dunia usaha kita menangkap peluang yang telah terpampang di depan mata itu, sehingga produk-produk Indonesia dapat lebih banyak lagi masuk di Maroko, yang pada gilirannya akan meningkatkan devisa negara.
Namun, saat ini Pemerintah menilai perdagangan antara Indonesia dengan Maroko masih kecil, yakni kurang dari USS 90 juta dengan pertumbuhan sekitar 20-25%. Karena itu, di masa yang akan datang diharapkan perdagangan kedua negara bisa ditingkatkan. Harapan itu diungkapkan Presiden SBY setelah kedua pemimpin negara itu yakni Presiden Yudhoyono dengan Perdana Menteri Maroko Abbas El Fassi melakukan pertemuan dalam menjajaki hubungan bilateral antarnegara. Selain membicarakan pengembangan bidang perdagangan, keduanya juga sepakat memajukan World Islamic Economic Forum (WIEF). Sebab dalam WIEF, bisa memajukan umat Islam dalam meningkatkan kerja sama antara komunitas-komunitas Islam dan juga untuk membangun jembatan antara dunia Islam dan dunia non-Islam yang sekarang ini terus diwarnai globalisasi.
Kamis, 30 Juni 2011
Minggu, 26 Juni 2011
Bilateral Guru dan Murid Negara khatulistiwa dan Maghribi
Hubungan kerjasama antar bangsa saat ini menjadi hal yang wajib untuk dijalani, banyak faktor yang melatarbelakangi alasan dilakukannya kerjasama tersebut. Adakah bangsa yang secara real mampu berdiri sendiri tanpa adanya bantuan atau hubungan kerjasama dengan negara lain ? sepertinya itu sudah menjadi hal yang tak mungkin, bahkan sejarah membuktikan ketika era perang dingin, suatu periode dimana dua blok yaitu Amerika dengan liberalismenya dan Uni Soviet dengan komunismenya bersitegang. Hal ini berdampak pada sikap kedua blok terhadap negara-negara lain yang berideologi berbeda. Salah satu contohnya adalah hubungan antara Amerika Serikat dengan RRC (Republik Rakyat Cina) yang tidak harmonis semenjak RRC menganut ideologi komunis. Sehingga tidak ada hubungan diplomatis yang terjalin antar kedua negara bahkan sikap anti terhadap masing-masing negara. Namun akhirnya, Cina sebagai negara yang tidak memiliki hubungan baik dengan AS maupun Uni Soviet akhirnya memutuskan untuk membuka diri terhadap AS walaupun AS memiliki ideologi yang berbeda. Karena dianggap lebih menguntungkan dalam beberapa hal bagi negaranya. Ini menjadi salah satu bukti bahwa tidak ada negara manapun yang mampu berdiri tanpa ada hubungan diplomasi yang harmonis walaupun negara tersebut dapat dikatakan suatu negara besar dan berpengaruh di dunia.
Hubungan bilateral yang harmonis itulah yang ingin diwujudkan Kerajaan Maroko dengan Republik Indonesia yang selama ini secara politis sudah terjalin dengan baik, tidak hanya di bidang politik, melainkan juga di bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan. Hubungan persahabatan Indonesia-Maroko sudah berlangsung selama 51 tahun. Indonesia memulai kerjasama diplomatik dengan Maroko pada tanggal 19 April 1960. Berbagai bidang kerja sama yang dilakukan Indonesia – Maroko salah satunya dilatarbelakangi karena kesamaan latar belakang kultur diantara kedua negara.
Hubungan baik Indonesia dan kerajaan Maroko sudah terlihat saat Indonesia memberikan dukungan moril bagi kemerdekaan Maroko 5O tahun silam. Dan untuk mengenang jasa Indonesia itu Pemerintah Maroko telah mengabadikan nama mantan Presiden RI (Soekarno) dan dua kota penting di Indonesia (Bandung dan Jakarta) menjadi nama jalan utama di jantung ibukota Rabat. Seperti halnya di Maroko, di Indonesia pun nama Casablanca (kota industri dan perdagangan Maroko) telah dijadikan nama salah satu jalan protokol di jantung ibukota Jakarta.
Langkah awal terjalinnya hubungan bilateral Indonesia dan Maroko saat diadakannya Konferensi Asia Afrika di Bandung, Indonesia tahun 1955. Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945, tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan. Timbulnya pergolakan di dunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat , India dan Pakistan terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang di Bantu oleh Amerika Serikat. Sehingga diadakanlah Konferensi Asia Afrika dimana Indonesia dan Maroko menjadi peserta konferensi tersebut. Salah satu tujuan konferensi tersebut adalah untuk memajukan goodwill (kehendak yang luhur) dan kerjasama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika , untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan mereka , baik yang silih ganti maupun yang bersama, serta untuk menciptakan dan memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga baik.
Hingga saat ini, hubungan bilateral Indonesia dan Maroko tetap berjalan harmonis, banyak kerjasama yanga telah dilakukan oleh kedua negara dalam berbagai bidang. Secara khusus, dalam pidato resmi Wakil Menteri Luar Negeri Maroko Latifa Akharbach dalam acara peringatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Maroko di KBRI Rabat, menyatakan bahwa Maroko tetap akan belajar kepada Indonesia tentang Islam dan demokrasi. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, dianggap negara kaya yang sangat demokratis dan bisa menerima kemajemukan. Walaupun sebenarnya Indonesia masih harus belajar dalam hal proses demokrasi untuk menerima sebuah realitas. Begitu juga Maroko, negara yang jumlah penduduknya hampir 98 % pemeluk agama Islam. Sudah menjadi wacana global yang masih menuding terorisme datang dari kelompok Islam. Bagaimana Indonesia dan Maroko sebagai negara yang mayoritasnya pemeluk agama islam menghadapi opini global ini dalam suatu kerjasama? Oleh karena itu, bidang pertahanan menjadi salah satu hal menarik dalam hubungan bilateral Indonesia dan Maroko saat ini. Terlebih bila dihubungkan dengan kegiatan terorisme dan islam, dimana dikedua negara ini memang sering terjadi aksi terorisme.
Konflik intern yang berkaitan dengan Sahara Barat di Maroko seringkali memunculkan teror-teror kepada Pemerintahan Maroko. Namun, hingga saat ini kondisi Maroko dari sisi keamanan sangat kondusif. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk belajar bagaimana menghadapi keadaan seperti ini. Pemerintah Maroko mempersilakan Indonesia untuk mengikuti informasi yang ada melalui Pihak KBRI Maroko yang selalu memonitor terhadap perkembangan yang terjadi di lapangan. Sikap-sikap pemerintahan Maroko juga diinformasikan, sehingga tidak kehilangan kesempatan dan kecolongan.
Pihak Maroko sendiri sudah bertekad untuk belajar kepada Indonesia, yakni menyelesaikan Sahara seperti penyelesaian Aceh menjadi daerah otonomi khusus. Selanjutnya, proses politiknya akan diserahkan kepada PBB. Indonesia sendiri mendukung proses ini.
Dalam hal penangkapan teroris-pun kedua negara ini dapat saling belajar dan bertukar informasi karena dapat dikatakan bahwa Indonesia dan Maroko cukup sukses dalam menyelesaikan permasalahan ini, dibuktikan dengan kesuksesan Maroko dalam penangkapan 3 pelaku bom marrakesh, penangkapan 27 orang yang diduga rancang serangan teror dimana masih berhubungan dengan anggota jaringan al-qaeda, keberhasilan pemerintah Maroko membongkar jaringan teroris yang rencanakan serangan, dan kasus-kasus terorisme lainnya. Pemerintah Indonesia-pun berhasil menangkap pelaku bom Bali, keberhasilan besar Pemerintah Indonesia dalam menangkap lebih dari 440 orang dan menghukum lebih dari 200 orang yang terlibat dalam kasus terorisme, dan kasus-kasus terorisme lainnya.
Di masa yang akan datang, hubungan bilateral yang telah dijalin Indonesia dan Maroko diharapkan dapat terus berjalan baik dan dapat bekerjasama lebih banyak lagi dalam berbagai bidang guna meningkatkan kesejahteraan kedua negara. Atas hubungan bilateral Indonesia dan Maroko ini wajar apabila kedua negara mempunyai cita-cita besar, bahwa melalui poros Indonesia-Maroko, akan mulai dibangun jembatan peradaban untuk membangkitkan kembali zaman keemasan peradaban Islam tanpa adanya lagi anggapan bahwa islam sebagai sumber teroris. Dan untuk menghadapi segala permasalahan dalam bidang pertahanan dan keamanan diharapkan adanya Kerjasama militer Indonesia-Maroko yang masih perlu dibangun. Karena posisi Indonesia di mata Maroko, seperti guru dengan murid dimana hubungan Indonesia-Maroko sudah terbangun sejak abad ke VI.
Hubungan bilateral yang harmonis itulah yang ingin diwujudkan Kerajaan Maroko dengan Republik Indonesia yang selama ini secara politis sudah terjalin dengan baik, tidak hanya di bidang politik, melainkan juga di bidang ekonomi, perdagangan, dan kebudayaan. Hubungan persahabatan Indonesia-Maroko sudah berlangsung selama 51 tahun. Indonesia memulai kerjasama diplomatik dengan Maroko pada tanggal 19 April 1960. Berbagai bidang kerja sama yang dilakukan Indonesia – Maroko salah satunya dilatarbelakangi karena kesamaan latar belakang kultur diantara kedua negara.
Hubungan baik Indonesia dan kerajaan Maroko sudah terlihat saat Indonesia memberikan dukungan moril bagi kemerdekaan Maroko 5O tahun silam. Dan untuk mengenang jasa Indonesia itu Pemerintah Maroko telah mengabadikan nama mantan Presiden RI (Soekarno) dan dua kota penting di Indonesia (Bandung dan Jakarta) menjadi nama jalan utama di jantung ibukota Rabat. Seperti halnya di Maroko, di Indonesia pun nama Casablanca (kota industri dan perdagangan Maroko) telah dijadikan nama salah satu jalan protokol di jantung ibukota Jakarta.
Langkah awal terjalinnya hubungan bilateral Indonesia dan Maroko saat diadakannya Konferensi Asia Afrika di Bandung, Indonesia tahun 1955. Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945, tidak berarti berakhir pula situasi permusuhan. Timbulnya pergolakan di dunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat , India dan Pakistan terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang di Bantu oleh Amerika Serikat. Sehingga diadakanlah Konferensi Asia Afrika dimana Indonesia dan Maroko menjadi peserta konferensi tersebut. Salah satu tujuan konferensi tersebut adalah untuk memajukan goodwill (kehendak yang luhur) dan kerjasama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika , untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan mereka , baik yang silih ganti maupun yang bersama, serta untuk menciptakan dan memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga baik.
Hingga saat ini, hubungan bilateral Indonesia dan Maroko tetap berjalan harmonis, banyak kerjasama yanga telah dilakukan oleh kedua negara dalam berbagai bidang. Secara khusus, dalam pidato resmi Wakil Menteri Luar Negeri Maroko Latifa Akharbach dalam acara peringatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Maroko di KBRI Rabat, menyatakan bahwa Maroko tetap akan belajar kepada Indonesia tentang Islam dan demokrasi. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, dianggap negara kaya yang sangat demokratis dan bisa menerima kemajemukan. Walaupun sebenarnya Indonesia masih harus belajar dalam hal proses demokrasi untuk menerima sebuah realitas. Begitu juga Maroko, negara yang jumlah penduduknya hampir 98 % pemeluk agama Islam. Sudah menjadi wacana global yang masih menuding terorisme datang dari kelompok Islam. Bagaimana Indonesia dan Maroko sebagai negara yang mayoritasnya pemeluk agama islam menghadapi opini global ini dalam suatu kerjasama? Oleh karena itu, bidang pertahanan menjadi salah satu hal menarik dalam hubungan bilateral Indonesia dan Maroko saat ini. Terlebih bila dihubungkan dengan kegiatan terorisme dan islam, dimana dikedua negara ini memang sering terjadi aksi terorisme.
Konflik intern yang berkaitan dengan Sahara Barat di Maroko seringkali memunculkan teror-teror kepada Pemerintahan Maroko. Namun, hingga saat ini kondisi Maroko dari sisi keamanan sangat kondusif. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk belajar bagaimana menghadapi keadaan seperti ini. Pemerintah Maroko mempersilakan Indonesia untuk mengikuti informasi yang ada melalui Pihak KBRI Maroko yang selalu memonitor terhadap perkembangan yang terjadi di lapangan. Sikap-sikap pemerintahan Maroko juga diinformasikan, sehingga tidak kehilangan kesempatan dan kecolongan.
Pihak Maroko sendiri sudah bertekad untuk belajar kepada Indonesia, yakni menyelesaikan Sahara seperti penyelesaian Aceh menjadi daerah otonomi khusus. Selanjutnya, proses politiknya akan diserahkan kepada PBB. Indonesia sendiri mendukung proses ini.
Dalam hal penangkapan teroris-pun kedua negara ini dapat saling belajar dan bertukar informasi karena dapat dikatakan bahwa Indonesia dan Maroko cukup sukses dalam menyelesaikan permasalahan ini, dibuktikan dengan kesuksesan Maroko dalam penangkapan 3 pelaku bom marrakesh, penangkapan 27 orang yang diduga rancang serangan teror dimana masih berhubungan dengan anggota jaringan al-qaeda, keberhasilan pemerintah Maroko membongkar jaringan teroris yang rencanakan serangan, dan kasus-kasus terorisme lainnya. Pemerintah Indonesia-pun berhasil menangkap pelaku bom Bali, keberhasilan besar Pemerintah Indonesia dalam menangkap lebih dari 440 orang dan menghukum lebih dari 200 orang yang terlibat dalam kasus terorisme, dan kasus-kasus terorisme lainnya.
Di masa yang akan datang, hubungan bilateral yang telah dijalin Indonesia dan Maroko diharapkan dapat terus berjalan baik dan dapat bekerjasama lebih banyak lagi dalam berbagai bidang guna meningkatkan kesejahteraan kedua negara. Atas hubungan bilateral Indonesia dan Maroko ini wajar apabila kedua negara mempunyai cita-cita besar, bahwa melalui poros Indonesia-Maroko, akan mulai dibangun jembatan peradaban untuk membangkitkan kembali zaman keemasan peradaban Islam tanpa adanya lagi anggapan bahwa islam sebagai sumber teroris. Dan untuk menghadapi segala permasalahan dalam bidang pertahanan dan keamanan diharapkan adanya Kerjasama militer Indonesia-Maroko yang masih perlu dibangun. Karena posisi Indonesia di mata Maroko, seperti guru dengan murid dimana hubungan Indonesia-Maroko sudah terbangun sejak abad ke VI.
Langganan:
Komentar (Atom)